Banten Pejati – Salah Satu Banten Utama Agama Hindu

Banten Pejati adalah banten utama yang lengkap sebagai ungkapan rasa syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan manifestasinya yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Pejati berasal dari kata ‘jati’ yang berarti sungguh-sungguh dan mendapatkan awalan ‘pa-‘ sehingga menjadi Pejati dan memiliki arti kata sebuah pelaksanaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Banten Pejati sering disebut juga dengan ‘Banten Peras Daksina’ dimana banten ini merupakan salah satu banten wajib dalam pelaksanaan Panca Yadnya.

Banten Pejati

Banten Pejati

Sebagai salah satu banten utama dalam pelaksanaan ritual-ritual keagamaan yang ada di Bali maka hampir setiap pelaksaan upacara keagamaan pastilah ada Banten Pejati di dalamnya. Berikut adalah beberapa kegunaan banten pejati sebagai banten utama :

  1. Sebagai sarana nunas pertolongan kepada Ida Pedanda atau Pemangku.
  2. Sebagai sarana pelengkap upacara.
  3. Sebagai sarana pengesahan atau peresmian upacara.
  4. Sebagai sarana permohonan keselamatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
  5. Sebagai sarana ‘meluasang’ kepada balian.
  6. Sebagai sarana ketika bersembahyang untuk pertama kali ke sebuah pura.

Banten Pejati dihaturkan kepada Dewa Catur Loka Phala yang merupakan konsep empat pura sebagai pelindung dan menjaga rasa aman dan kenyamanan dunia yaitu :

  • Daksina dihaturkan kepada Dewa Brahma
  • Peras dihaturkan kepada Dewa Isvara
  • Ketupat kelanan dihaturkan kepada Dewa Visnu
  • Ajuman dihaturkan kepada Dewa Mahadeva

Banten Pejati dibuat dengan unsur-unsur utama sebagai berikut:

  1. Daksina

Daksina melambangkan Dewa Siwa sebagai manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Merupakan simbol dan ucapan terima kasih.

  1. Banten Peras

Banten Peras melambangkan Hyang Tri Guna-Sakti.  Sebagai simbol dan permohonan kesuksesan sebuah upacara.

  1. Banten Ajuman Rayunan atau Sodaan

Banten Ajuman Rayunan atau Sodaan sebagai pelengkap Daksina.

  1. Ketupat Kelanan

Sebagai simbol terikatnya sad ripu yang ada di dalam diri kita.

  1. Penyeneng/Tehenan/Pabuat

Sebagai sarana agar Ida Sang Hyang Widhi Wasa berkenan menghadiri upacara.

  1. Pesucian

Sebagai simbol kesucian karena Ida Sang Hyang WIdhi Wasa sangat menyukai kesucian hati umatnya.

  1. Segehan alit

Sebagai penghilang energi negatif atau yang tidak baik yang merupakan simbol Bhuta Kala.

Terdapat pula unsur-unsur lainnya seperti:

  1. Daun/Plawa sebagai lambang kesejukan.
  2. Bunga sebagai lambang cetusan perasaan.
  3. Bija sebagai lambang benih-benih kesucian.
  4. Air sebagai lambang pawitra.
  5. Api sebagai lambang saksi.

 

No Response

Leave a reply "Banten Pejati – Salah Satu Banten Utama Agama Hindu"