Hari Raya Galungan – Kemenangan Dharma atas Adharma

Hari Raya Galungan adalah sebuah hari bagi umat Hindu untuk merayakan kemenangan Dharma (kebenaran) atas Adharma (kejahatan) yang dirayakan setiap 6 bulan dalam penanggalan Bali yaitu 210 hari. Hari raya Galungan ini jatuh pada hari Budha Kliwon Dungulan (Rabu Kliwon wuku Dungulan) yang biasanya identik dengan pemasangan penjor di depan rumah yang merayakannya. Rentetan upacara dalam pelaksanaan Hari Raya Galungan dilaksanakan sampai pada Hari Raya Kuningan yang waktunya sepuluh hari kedepan.

Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan

Arti kata Galungan itu sendiri adalah Menang, yang berasal dari sebuah kata Jawa Kuno atau biasa disebut dengan Dungulan dalam bahasa bali. Pada dasarnya Galungan dan Dungulan adalah sama yang membedakan adalah asal bahasanya saja yaitu: Galungan (Jawa) dan Dungulan (Bali). Tapi mengapa di Bali menggunakan kata Galungan dan bukan Dungulan? Para ahli memperkirakan bahwa hari raya Galungan lahir dari kerajaan-kerajaan Jawa Kuno sehingga penggunaan nama Galungan diadopsi ke Bali.

Menurut Parisadha Hindu Dharma, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi (Bumi). Hal ini bukan berarti bahwa Gumi (Bumi)/ Jagad ini tercipta pada hari Budha Kliwon Dungulan tetapi karena pada hari itu disepakati oleh umat Hindu untuk bersama-sama menghaturkan terima kasih ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas anugrah yang telah dilimpahkan oleh beliau kepada semua mahluk hidup . Pada hari itulah umat angayubagia (suatu pertanda jiwa yang sadar akan Kinasihan, tahu akan hutang budi), bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.

Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau sekitar  tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:

Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804.Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.

Artinya:

Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.

Makna Filosofis dari perayaan Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual sehingga umat manusia mampu membedakan mana yang merupakan dorongan hidup yang berasal dari ketidak-baikan (adharma) dan mana yang berasal dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) yang ada didalam diri manusia dimana tentunya kita sebagai umat manusia  lebih mengutamakan suara kebenaran (dharma). Filosofi lain dari Galungan adalah untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad (kecendrungan kedewaan) daripada asura (kecendrungan keraksasaan) untuk menegakkan dharma melawan adharma.

Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:

Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep

Artinya:

Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan ber-satunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

Jadi, intisari dari perayaan Galungan adalah untuk dapat menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang untuk menegakkan ajaran dharma diatas adharma. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang juga merupakan salah satu wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan me-nangnya dharma melawan adharma.

 

No Response

Leave a reply "Hari Raya Galungan – Kemenangan Dharma atas Adharma"