Hari Raya Siwaratri

Hari Raya Siwaratri adalah hari raya yang dipercaya sebagai malam peleburan dosa oleh umat hindu. Hari raya ini diadakan pada tilem kepitu atau bulan mati ketujuh setahun sekali. Siwaratri berasal dari kata ‘Siwa’ yang merujuk kepada Dewa Siwa dan ‘Ratri’ yang berarti malam jadi siwaratri berarti malam Dewa Siwa. Pada tilem kepitu disebutkan bahwa Dewa Siwa rutin melaksanakan semedi sehingga umat hindu yang merupakan bhakta beliau melaksanakan tapa siwaratri ataupun bersembahyang di tempat-tempat suci.

 

Hari Raya Siwaratri

 

Hari Raya Siwaratri tak lepas dari cerita seorang pemburu yang bernama Lubdaka. Pada suatu hari dia memasuki hutan untuk berburu binatang untuk dimakan dan dijual kembali. Setelah demikian lama Lubdaka masuk ke hutan namun dia tidak menemukan binatang hutan sehingga dia kembali lagi memasuki hutan yang lebih dalam. Didalam perjalannya bukan buruan yang didapat tetapi ia dikejar oleh harimau yang sedang lapar. Lubdaka pun berlari dan melihat sebuah pohon bila yang tinggi disamping sebuah telaga dan dengan segera memanjat pohon tersebut untuk menghindari kejaran harimau. Berjam-jam berlalu tetapi harimau itu tidak juga pergi sehingga Lubdaka tidak berani tertidur karena takut terjatuh. Sambil menunggu harimau itu pergi Lubdaka pun memetik daun bila sambil melemparkannya ke telaga dimana Lubdaka juga teringat akan dosa-dosanya dan menyesalinya. Ternyata di telaga itu terdapat sebuah linggam yang merupakan simbol Dewa Siwa. Setelah pagi ternyata harimau itu sudah pergi dan Lubdaka pulang kembali kerumah dan memulai hidup baru dengan melakukan apa yang ia renungkan pada malam siwaratri tersebut. Dan pada hari kematiannya Lubdaka diselamatkan oleh Dewa Siwa karena beliau senang atas tapa yang dilakukan oleh Lubdaka yang dilakukan tanpa sengaja.

Dari cerita itu maka umat hindu sangat antusias melaksanakan atau merayakan hari siwaratri dengan harapan agar dosa-dosa umat bisa di ampuni seperti cerita Lubdaka dengan kemurahan hati Dewa Siwa. Namun banyak yang menyangka bahwa semua dosa bisa dilebur dalam satu malam saja padahal dari cerita Lubdaka sendiri menegaskan bahwa hari siwaratri adalah merenungkan dosa-dosa dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya lagi. Makna hari raya siwaratri adalah melaksanakan tapa kepada Dewa Siwa dan juga merenungkan kembali segala dosa-dosa umat serta berkomitmen untuk tidak mengulanginya lagi.

Tapa Siwaratri dilaksanakan sebagai berikut :

  1. Melakukan persembahyangan pada pukul 06.00 pagi.
  2. Melaksanakan Monabrata yang berarti berdiam diri dan tidak berbicara dalam waktu 12 jam pukul 06.00 sampai 18.00
  3. Melaksanakan Mejagra yang berarti tidak tidur dalam waktu 36 jam yaitu pukul 06.00 sampai 18.00 keesokan harinya.
  4. Melaksanakan Upawasa yang berarti tidak makan dan minum selama 24 jam yaitu pada pukul 06.00 sampai 06.00 kesokan harinya. Namun jika sudah melaksanakannya dalam 12 jam maka umat diperbolehkan makan dan minum dengan memutih atau makan nasi dan air putih saja.

Dalam rangkaian upacara keagamaan agama hindu biasanya terdapat tingkatan sesuai dengan lakunya. Tingkatan tapa siwaratri adalah:

  1. Nista : hanya melaksanakan Mejagra
  2. Madya : Melaksanakan Mejagra dan Upawasa
  3. Utama : Melaksanakan Mejagra, Upawasa, dan Monabrata.

Demikian penjelasan singkat tentang perayaan hari raya siwaratri, semoga tulisan ini berguna bagi umat hindu semuanya. Jadi marilah kita merenungkan segala perbuatan dosa dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya.

No Response

Leave a reply "Hari Raya Siwaratri"