Perkembangan Agama Hindu di Bali

Perkembangan Agama Hindu di Bali dapat kita ketahui melalui sebuah Prasasti yang bernama Prasasti Blanjong. Prasasti Blanjong dipercaya merupakan peninggalan sejarah dari Kerajaan Hindu di Bali. Sebenarnya selain Prasasti Blanjong ada pula beberapa prasasti yang berasal dan Bali tetapi sayangnya tidak menyebutkan angka dan tahun. Selain itu juga ditemukan cap-cap/stempel kecil yang disimpan dalam stupa yang terbuat dari tanah liat. Cap-cap/stempel kecil ini bertuliskan mantra-mantra Agama Buddha yang disebut Ye Te Mantra. Mantra yang sama juga ditemukan di daerah Jawa Tengah yaitu pada pintu masuk Candi Kalasan yang diperkirakan berasal dari abad ke8 Masehi.

Perkembangan Agama Hindu di Bali

Perkembangan Agama Hindu di Bali

Pada abad ke-8 ini pada prasasti kuno di Bali didapatkan sebuah informasi bahwa ada sebuah kerajaan yang pusat pemerintahannya ada di Singhamandawa. Tetapi tidak disebutkan raja yang memerintah dan nama kerajaannya. Prasasti Blanjong memuat tentang nama raja Bali yang bergelar Warmadewa, yaitu Sri Kesari Warmadewa maka sejak saat itulah Raja-raja Bali bergelar Warmadewa. Pada tahun 905 saka disebutkan ada seorang Ratu yang bernama Sri Maharaja Sriwijaya Mahadewi. Setelah pemerintahan Sri Maharaja Sriwijaya Mahadewi, muncul nama Raja Udayana Warmadewa yang memiliki permaisurinya bernama Sri Guna Pria Dharmapadni (Mahendradata). Raja Udayana dan Mahendradata memiliki putra yang bernama Prabhu Airlangga (Raja di Jawa Timur), Marakata, dan Anak Wungsu.

Marakata kemudian naik tahta untuk menggantikan ayahnya Raja Udayana sebagai Raja Bali. Setelah itu muncul Raja Anak Wungsu sebagai pengganti pemerintah di Bali. Anak Wungsu dikenal sebagai raja yang sangat gemar mencatat berbagai peristiwa penting dalam masa pemerintahannya sehingga beliau adalah raja yang paling banyak mengeluarkan prasasti-prasasti. Diantara prasasti-prasasti tersebut yang paling menarik adalah prasasti yang berangka tahun 944 Saka. Prasasti ini berisi Sapata (kata-kata sumpah yang menyebut nama-nama dewa Hindu). Disana disebutkan bahwa rakyat Bali percaya dengan Dewa-Dewa dan Maharsi seperti Maharsi Agastya (Maharsi Agastya dikenal sebagai salah satu tokoh penyebar Agama Hindu yang paling penting). Pada prasasti yang dikeluarkan tahun 993 Saka juga terdapat Sapata yang berbunyi “Untuk Hyang Agastya Maharsi dan para Dewa lainnya”. Dengan informasi tersebut maka dapat diketahui dalam masa pemerintahan Anak Wungsu di Bali, sosok Maharsi Agastya sangat dimuliakan sebagai tokoh penyebar Agama Hindu. Pada jaman ini Bali mengalami masa kejayaan dimana rakyatnya dapat menikmati ketentraman dan kemakmuran.

Selanjutnya Bali dikuasai oleh Raja Bedahulu yang disebutkan sebagai raja yang ditakuti oleh rakyatnya. Rakyat tidak boleh memandang wajah atau kepala raja karena dianggap tidak sopan sehingga bila menghadap raja harus menundukan wajah. Beliau adalah Raja Bali terakhir yang memerintah pada tahun 1259 saka dengan gelar Sri Astasura Bumi Banten. Setelah 6 tahun masa pemerintahannya pada tahun 1265 saka, pasukan Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Gajah Mada dapat menaklukkanya. Sejak itu Bali dikuasai oleh Kerajaan Majapahit dimana Kerajaan Bali dikuasai oleh Sri Kresna Kepakisan yang mendapat mandat oleh Raja Majapahit. Ibukota pemerintahan yang pada awalnya di Samprangan lalu dipindahkan ke Gelgel. Yang selanjutnya berkuasa adalah Raja Dalem Waturenggong dimana Bali mengalami masa keemasannya pada masa ini. Agama Hindu berkembang pesat karena segala aspek keagamaan ditata ulang kembali oleh Dang Hyang Nirartha sebagai Purohita pendamping Raja Dalem Waturenggong.

Hingga sekarang, Bali dikenal sebagai pusatnya Agama Hindu yang ditopang oleh keindahan alam dan keluhuran warisan budayanya. Peninggalan Hindu di Bali yang terbesar tentunya adalah Pura Besakih yang merupakan pura terbesar di Asia Tenggara dan menjadi tempat pemujaan Umat Hindu di seluruh dunia.

No Response

Leave a reply "Perkembangan Agama Hindu di Bali"