Tumpek Wariga, Tradisi Penghormatan Kepada Tumbuhan

Tumpek Wariga adalah hari untuk mengaturkan persembahan kepada tumbuh-tumbuhan sebagai rasa syukur dan terima kasih atas segala manfaat yang tumbuh-tumbuhan ini berikan kepada mahluk hidup lainnya terutama pada manusia. Begitulah pengertian tumpek wariga sebagai salah satu upcara umat hindu di nusantara. Tumpek Wariga disebut juga tumpek uduh, tumpek bubuh, dan tumpek atag. Tumpek wariga atau tumpek uduh adalah untuk pemujaan terhadap dewa Sangkara yang merupakan manifestasi dari dewa Siwa. Jadi Tumpek Wariga memuja dewa Siwa sebagai dewa yang memberikan anugerah kepada tumbuh-tumbuhan yang merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widi Wasa.

 

Bagikan Ke Facebook! Follow Instagram!

Tumpek Wariga

 

 

Pengertian Tumpek Wariga

 

Tumpek Wariga dilaksanakan pada dua puluh lima hari sebelum hari raya galungan yaitu pada hari saniscara kliwon wariga. Tumpek wariga juga sering disimbolkan dengan bubur atau bubuh karena bubur atau bubuh merupakan simbol dari kesuburan. Bubur yang digunakan dalam upacara ini adalah bubur berwarna putih yang melambangkan purusa (laki-laki) dan pradana (perempuan) yang dimana bertemunya purusa dan pradana akan melahirkan kehidupan.

 

Makna dalam melaksanakan upacara tumpek wariga adalah dengan menghaturkan upacara dengan persembahan-persembahan kepada dewa Sangkara untuk memperoleh hasil panen yang melimpah, kebutuhan oksigen yang cukup, dan terpenuhnya semua kebutuhan mahluk hidup lainnya. Upacara ini juga sebagai wujud rasa terima kasih kepada tumbuh-tumbuhan yang membantu semua kegiatan manusia dan memohon kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa agar para tumbuh-tumbuhan tersebut mengalami reinkarnasi sebagai mahluk yang lebih tinggi di kehidupan yang selanjutnya.

 

Dalam pelaksanaan upacaranya akan dibuat pengider-ider berwarna hijau yang melambangkan dewa Sangkara yang mengarah ke barat laut, pengider-ider berwarna hitam yang melambangkan dewa Wisnu yang mengarah ke utara, pengider-ider berwarna kuning yang melambangkan dewa Mahadewa yang mengarah ke barat. Dalam Ganapati Tattwa sendiri disebutkan simbol warna kuning berarti tanah dan warna hitam berarti air sedangkan hijau bermakna tumbuh-tumbuhan itu sendiri. Hubungan yang baik antara tumbuhan, tanah, dan air akan menjadi sumber kehidupan yang baik untuk seluruh mahluk hidup dan sebaliknya jika ada yang hilang maka keseimbangan akan goyah, begitulah filosofi dari simbol-simbol tersebut.

 

Tumpek Bubuh (wariga) ini juga dilaksanakan sebagai pengingat dan penyadaran umat hindu akan pentingnya tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan dan keberlangsungan hidup manusia. Di hari ini umat hindu juga dianjurkan untuk tidak menebang pohon sebagai bentuk penghormatan kepada tumbuh-tumbuhan dan sebaliknya agar umat menanam pohon yang banyak sebagai simbol kehidupan dan kasih sayang kepada tumbuh-tumbuhan.

 

 

Demikian penjelasan mengenai hari tumpek wariga ini. Kita sebagai umat hindu sudah diberikan pengingat untuk selalu bersahabat dengan alam karena dengan bersahabat dengan alam maka kelangsungan hidup semua mahluk akan terjaga dengan baik. Pemujaan terhadap hewan pun ada didalam perayaan Tumpek Kandang. Mari jaga kelestarian alam kita karena secara tidak langsung berarti kita memuja Ida Sang Hyang Widi Wasa.

 

 

 

Bagikan Ke Facebook! Follow Instagram!